Tuesday, 26 November 2013

                                                            MAKALAH
          PENGERTIAN ETIKA, MORAL, AKHLAK, DAN LATAR BELAKANG SEJARAH                   PERKEMBANGANNYA



DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN      3
1.1    Latar Belakang      3
1.2    Tujuan      4
BAB II PEMBAHASAN      5
A.    ETIKA      5
B.    MORAL      6
C.    SUSILA      7
D.    HUBUNGAN ETIKA, MORAL dan SUSILA DENGAN AKHLAK      7
E.    SEJARAH PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN ILMU AKHLAK      8
1.    Ilmu Akhlak Di Luar Agama Islam      8
1)    Akhlak Pada Bangsa Yunani      8
2)    Akhlak Pada Bangsa Romawi (Abad Pertengahan)      9
3)    Akhlak Pada Bangsa Arab      9
2.    Akhlak Pada Agama Islam      9
3.    Akhlak Pada Zaman Baru      10
BAB III PENUTUP      11
Kesimpulan      11
Daftar Pustaka       12




BAB I
PENDAHULUAN

1.3    Latar Belakang
    Pendidikan Islam pada intinya adalah sebagai wahana pembentukan manusia yang bermoralitas tinggi. Di dalam ajaran Islam moral atau akhlak tidak dapat dipisahkan dari keimanan. Keimanan merupakan pengakuan hati. Akhlak adalah pantulan iman yang berupa perilaku, ucapan, dan sikap atau dengan kata lain akhlak adalah amal saleh. Iman adalah maknawi (abstrak) sedangkan akhlak adalah bukti keimanan dalam bentuk perbuatan yang dilakukan dengan kesadaran dan karena Allah semata.
    Berkaitan dengan pernyataan di atas bahwa akhlak tidak akan terpisah dari keimanan, dalam al-Qur'an juga sering dijelaskan bahwa setelah ada pernyataan “orang-orang yang beriman,” maka langsung diikuti oleh “beramal saleh.” Dengan kata lain amal saleh sebagai manifestasi dari akhlak merupakan perwujudan dari keimanan seseorang. Pemahaman moralitas dalam bahasa aslinya dikenal dengan dua istilah yaitu al-akhlaq al-karimah dan al-akhlaq al-mahmudah. Keduanya memiliki pemahaman yang sama yaitu akhlak yang terpuji dan mulia, semua perilaku baik, terpuji, dan mulia yang diridlai Allah.
Satu masalah sosial/kemasyarakatan yang harus mendapat perhatian kita bersama dan perlu ditanggulangi dewasa ini ialah tentang kemerosotan akhlak atau dekadensi moral.
Di samping kemajuan teknologi akibat adanya era globalisasi, kita melihat pula arus kemorosotan akhlak yang semakin melanda di kalangan sebagian pemuda-pemuda kita. Dalam surat-surat kabar sering kali kita membaca berita tentang perkelahian pelajar, penyebaran narkotika, pemakaian obat bius, minuman keras, penjambret yang dilakukan oleh anak-anak yang berusia belasan tahun, meningkatnya kasus-kasus kehamilan dikalangan remaja putrid dan lain sebagainya.
Hal tersebut adalah merupakan suatu masalah  yang dihadapi masyarakat yang kini semakin marak, Oleh kerena itu persoalan remaja seyogyanya mendapatkan perhatian yang serius dan terfokus untuk mengarahkan remaja ke arah yang lebih positif,  yang titik beratnya untuk terciptanya suatu sistem dalam menanggulangi kemerosotan akhlak dan moral dikalangan remaja.



1.4    Tujuan
a.    Mengetahui sejarah perkembangan akhlak.
b.     Mengetahui Pengertian dan perbedaan dari akhlak, etika, dan moral.
c.    Mengetahui kondisi akhlak remaja saat ini dan permasalahan yang ditimbulkan.
d.    Dapat menentukan solusi yang tepat untuk menangani permasalahan akhlak, etika, dan moral remaja berdasar atas dalil naqli dan aqli.





BAB II
PEMBAHASAN

A.    ETIKA
    Dari segi etimologi ( ilmu asal usul kata), etika berasal dari bahasa yunani, ethos yang berarti watak kesusilaan atau adat. Dan dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia, etika dapat diartikan sebagai ilmu pengetahuan tentang asas-asas akhlak (moral).

    Adapun arti etika dari segi istilah telah dikemukakan oleh para ahli dengan ungkapan yang berbeda sesuai dengan sudut pandang masing-masing Ahmad Yani misalnya, mengartikan etika sebagai ilmu yang
menjelaskan arti baik dan buruk, menerangkan apa yang seharusnya dilakukan oleh manusia, menyatakan tujuan yang harus dituju oleh manusia dalam perbuatan mereka dan menunjukan jalan untuk melakukan apa yang seharusnya dilakukan.
    Pengertian lebih lanjut dikemukakan oleh Ki Hajar Dewantara. Menurutnya, etika adalah ilmu yang mempelajari tentang kebaikan dan keburukan didalam hidup manusia, semua itu mengenai gerak-gerik fikiran dan rasa yang dapat merupakan pertimbangan dan perasaan apa yang mengenai tujuannya yang dapat merupakan perbuatan.

    Dari beberapa definisi etika tersebut dapat segera diketahui bahwa etika berhubungan dengan empat hal, sebagai berikut :
1.    Dilihat dari segi pembahasannya, etika berupaya membahas perbuatan yang dilakukan oleh manusia.
2.    Dilihat dari sumbernya, etika bersumber pada rasionalitas atau filsafat. Sebagai hasil pemikiran maka, etika tidak bersifat mutlak, absolut, dan tidak pula universal.
3.    Dilihat dari segi fungsinya, etika berfungsi sebagai penilai, penentu, dan penetap terhadap suatu perbuatan yang dilakukan oleh manusia, yaitu apakah perbuatan tersebut akan dinilai baik, buruk, mulia, terhormat, dsb.
4.    Dilihat dari segi sifatnya, etika bersifat yakni dapat berubah-ubah sesuai dengan tuntunan zaman.
Dengan ciri-cirnya yang demikian itu, maka etika lebih merupakan ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan upaya menentukan perbuatan yang dilakukan manusia untuk dikatakan baik atau buruk. Dengan demikian etika sifatnya humanistis dan antroposentris, yakni berdasarkan pada pemikiran manusia dan diarahkan pada manusia. Dengan kata lain etika adalah aturan atau pola tingkah laku yang di hasilkan oleh akal manusia.

B.    MORAL
    Adapun arti moral dari segi bahasa berasal dari bahasa latin, mores yaitu jamak dari kata mos yang berarti adat kebiasaan. Di dalam kamus umum bahasa indonesia di katakan bahwa moral adalah penentuan baik atau buruk terhadap perbuatan dan kelakuan.
    Selanjutnya moral dalam arti istialah adalah suatu istilah yang di gunakan untuk menentukan batas-batas dari sifat, perangai, kehendak, pendapat atau perbuatan yang secara layak dapat dikatakan benar, salah, baik, dan buruk.
    Selanjutnya pengertian moral di jumpai pula dalam the advanced leaner’s dictonary of correct English. Dalam buku ini dikemukakan beberapa pengertian moral sebagai berikut :
1.    Prinsip-prinsip berkenaan dengan benar dan salah, baik dan buruk.
2.    Kemampuan untuk memahami perbedaan antara benar atau salah.
3.    Ajaran atau gambaran tingkah laku yang baik.
Berdasarkan kutipan tersebut diatas, dapat dipahami bahwa moral adalah istilah yang digunakan untuk memberikan batasan terhadap aktifitas manusia dengan nilai ketentuan yang baik atau buruk, benar atau salah. Jika dalam kehidupan sehari0hari dikatan bahwa orang tersebut bermoral, maka yang dimaksud adalah bahwa orang tersebut tingkah lakunya baik.
Jika pengertian etika dan moral tersebut dihubungkan satu dan lainnya kita dapat mengatakan bahwa antara etika dan moral miemiliki objek yang sama, yaitu sama-sama membahas tentang perbuatan manusia untuk selanjutnya ditentukan posisi apakah baik atau buruk.
Namun demikian dalam beberapa hal antara etika dan moral memiliki perbedaan, pertama jika dalam pembicaraan etika, untuk menentukan nilai perbuatan manusia baik atau buruk menggunakan tolak ukur pikiran atau rasio, sedangkan dalam pembicaraan moral tolak ukur yang digunakan adalah norma-norma yang tumbuh dan berkembang serta berlangsung di masyarakat.
Etika dan moral sama artinya tetapi dalam peakaian sehari-hari ada sedikit perbedaan. Moral atau moralitas dipakai perbuatan yang sedang dinilai, sedangkan etika dipakai untuk pengkajian sistem nilai yang ada.
Kesadaran moral erat pula hubungannya dengan hati nurani yang dalam bahasa asing disebut consience, conscientia, gewissen, gewetten, dan dalam bahasa arab disebut qalb, fuad. Dan dalam kesadaran moral itu mencakup tiga hal.
1.    Perasaan wajib atau keharusan untuk melakukan tindakan yang bermoral, kewajiban tersebut tidak dapat ditawar-tawar, karena sebagai kewajiban maka andaikata dalam pelaksanaan tidak dapat dipatuhi maka suatu pelanggaran moral.
2.    Kesadaran moral juga dapat terwujud rasionalitas dan obyektif yaitu suatu perbuatan yang bersifat umum dapat diterima oleh masyarakat, sebagai hal yang obyektif dan dapat diberlakukan secara universal, artinya dapat disetujui, berlaku pada setiap waktu dan tempat bagi setiap orang yang berbeda dalam situasi yang sejenis.
3.    Kesadaran moral dapat juga muncul dalam bentuk kebebasan. Bebas dalam menentukan perilakunya dan didalam penentuan sekaligus terlihat nilai manusia itu sendiri.
Berdasarkan pada uraian tersebut kita dapat sampai pada suatu kesimpulan, bahwa moral lebih mengacu kepada suatu nilai atau sistem hidup yang dilaksanakan dan diberlakukan oleh masyarakat. Jika nilai-nilai tersebut telah mendarah daging dalam diri seseorang maka akan membentuk kesadaran moralnya sendiri. Orang yang demikian adalah orang yang memiliki kesadaran moral atau orang yang telah bermoral.

C.    SUSILA
Susila atau kesusilaan berasal dari kata susila yang mendapatkan awalan “ke” dan akhiran “an”. Kata tersebut berasala dari bahasa sansakerta yaitu su dan sila. Su berarti baik, bagus dan sila berarti dasar, prinsip, peraturan hidup dan norma. Orang yang susila adalah orang berkelakukan baik, sedangkan asusila adalah orang yang berkelakuan buruk. Para pelaku zinah (pelacur) sering diberi gelar tuna susila. Kata susila dapat juga berarti sopan, beradab, baik budi dan bahasanya.

D.    HUBUNGAN ETIKA, MORAL dan SUSILA DENGAN AKHLAK
Dilihat dari fungsi dan perannya, dapat dikatan bahwa etika, moral, susila, dan ahklak sama, yaitu menentukan hukum atau nilai dari suatu perbuatan yang dilakukan manusia untuk menentukan baik buruknya. Semua istilah tersebut sama-sama menghendaki terciptanya keadaan masyarakat yang baik, teratur, aman , damai dan tentram sehingga sejahtera batiniah dan lahiriahnya.
Perbedaan antara etika, moral dan susila dengan akhlak adalah terletak pada sumber yang dijadikan patokan untuk menentukan baik dan buruk. Jika dalam etika penilaian baik buruk berdasarkan pendapat akhlak dan pikiran dan pada moral dan susila berdasarkan kebiasaan yang berlaku umum di masayarakat, dan pada akhlak tolak ukurnya adalah al-Qur’an dan Hadits.
Perbedaan lain antara moral dan susila terlihat pula pada sifat dan kawasan pembahasannya. Etika memandang tingkah laku manusia secara umum, sedangkan moral dan susila bersifat lokal dan individual.
Uraian di atas menunjukkan dengan jelas bahwa etika, moral dan susila berasal dari rasio dan kebudayaan masyarakat, sedangkan akhlak berasal dari wahyu, yakni ketentuan yang berdasarkan petunjuk Qur’an dan Hadits. Dengan kata lain jika etika, moral, dan susila berasal dari manusia sdangkan akhlak berasal dari Tuhan.
Namun demikian bisa saja terjadi bahwa antara akhlak dan etika, moral dan susila menunjukkan kegiatan yang tidak sejalan. Hal itu bisa terjadi pada masyarakat yang dalam berfikirnya bersifat liberal, atheis dan sekuler sebagaimana terjadi di barat.
Akhlak Islam yang bersumber pada wahyudapat menerima atau mengakui peranan yang dimainkan oleh etika, moral dan susila, yaitu sebagai sarana untuk menjabarkan akhlak islam yang terdapat dalam Qur’an dan Hadits, sepanjang etika, moral dan susila itu sejalan dengan Qur’an dan Hadits.
Dengan cara demikian ajaran akhlak disamping memiliki nila-nilai yang bersifat mutlak, absolut dan universal. Sebaiman terdapat dalam Qur’an dan Hadits juga menerima ajaran yang bersifat rasional, lokal dan kultural sehingga ajaran islam itu dapat hadir dan diterima oleh seluruh lapisan masyarakat. Dan akhlak islam disamping menerima adanya universalitas juga mengakui adanya variasi dan perbedaan-perbedaan.

E.    SEJARAH PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN ILMU AKHLAK

1.    Ilmu Akhlak Di Luar Agama Islam
1)    Akhlak Pada Bangsa Yunani
Pertumbuhan dan perkembangan ilmu akhlak pada bangsa Yunani baru terjadi setelah munculnya apa yang disebut sopisticians, yaitu orang-orang yang bijaksana. Padangan dan pemikiran filsafat yang dikemukakan para filosof Yunani itu secara redaksional berbeda-beda, tapi substansi dan tujuan nya sama, yaitu menyiapkan angkatan muda Yunani agar menjadi nasionalis yang baik lagi merdekadan mengetahui kewajiban mereka terhadap tanah airnya. Sejarah mencatat bahwa filosof pertama Yunani yang mengemukakan pemikirannya di bidang akhlak adalah Socrates tahun (469-399 SM).
Socrates dipandang sebagai perintis ilmu akhlak karena beliau yang pertama kali berusaha sungguh-sungguh membentuk pola hubungan antar manusia dengan dasar ilmu pengetahuan. Pada tahap selanjutnya datanglah Plato (427-347 SM). Ia seorang ahli fisafat Athena. Ia telah menulis beberapa buku di antaranya buku yang mengandung ajaran akhlak adalah republik, dalam pandangan akhlaknya Plato tampak berupaya memadukan antara unsur yang datang dari diri manusia dan unsur yang datang dari diri manusia dan unsur yang datang dari luar.
Setelah plato, datang pula Aristoteles (394-322 SM). Sebagai murid Plato. Aristoteles berupaya membangun suatu paham yang khas dan par apengikutnya disebut sebagai kaum Peripatetis. Dia berupaya menyelidiki akhlak secara mendalam dan menuangkannya dalam bentuk karya tulis. Aristotles berpandapat bahwa tujuan akhir yang dikehendaki oleh manusia dari apa yang dilakukannya adalah kebahagiaan. Jalan untuk mencapai kebahagiaan ini adalah dengan mempergunakan akal dengan sebaik-baiknya.
2)    Akhlak Pada Bangsa Nasrani
Pada akhir abad ketiga masehi, tersiar agama Nasrani di Eropa, agama ini telah berhasil mempengaruhi pemikiran manusia dan membawa pokok-pokok ajaran akhlak yang disebut dalam kitab Taurat dan Injil. Menurut agama ini, Tuhan adalah sumber akhlak. Menurut ahli-ahli filsafat Yunani, bahwa pendorong untuk melakukan perbuatan baik adalah pengetahuan dan kebijaksanaan sedangkan menurut agama Nasrani, pendorong kebaikan adalah cinta dan iman kepada Tuhan berdasarkan kepada kitab Taurat. Akibat dari faham akhlak yang demikian itu kebanyakan para pengikut pertama dari agama ini suka menyiksa dirinya, menjauhi dunia yang fana, beribadah, zuhud dan hidup menyendiri.

3)    Akhlak Pada Bangsa Romawi (Abad Pertengahan)
Kehidupan masyarakat Eropa pada abad pertengahan dikuasai oleh gereja. Namun demikian, sebagian dari kalangan gereja, ada yang menggunakan pemikitan Plato, Aristoteles dan Stoics untuk memperkuat ajaran gereja dan mencocokkannya dengan akal filsafat yang menentang agam Nasranidibuang jauh-jauh.

4)    Akhlak Pada Bangsa Arab
Pada bangsa arab, zaman Jahiliyah tidak mempunyai ahli-ahli filsafat yang mengajak pada aliran faham tertentu. Pada masa itu, bangsa arab hanya mempunyai ahli-ahli hikmah dan ahli sya’ir.
Dalam kata-kata hikmah dan sya’ir tersebut dapat dujumpai ajaran yang memerintahkan agar berbuat baik dan menjauhi keburukan, mendorong pada perbuatan yang utama dan menjauhi keburukan.

4.    Akhlak Pada Agama Islam
Ajaran akhlak menemukan bentuknya yang sempurna pada agama Islam dengan titik pangkalnya pada Tuhan dan akal manusia. Selain itu, agama Islam juga mengandung jalan hidup manusia yang paling sempirna dan memuan ajaran yang menuntun umat pada kebahagiaan dan kesejahteraan.
Selain berisi perintah, Qur’an juga mengandung larangan seperti larangan berbuat syirik, durhaka kepada orang tua, mencuri, berzinah, dsb.
Hasil penelitian Thahabathi terhadap kandungan Qur’an mengenai jalan yang harus ditempuh manusia ada tiga macam.
a.    Menurut al-Qyron dalam hidup manusia hanya menuju kepada kebahagiaan, ketenangan dan pencapaian cita-cita.
b.    Perbuatan-perbuatan yang dilakukan manusia senantiasa berada dalam satu kerangka peraturan dan hukum tertentu.
c.    Jalan hidup terbaik manusia jalan hidup berdasarkan fitrah, bukan berdasarkan hawa nafsu.
Selanjutnya, perhatian Islam terhadap pembinaan akhlak dapat pula dijumpai dari perhatian Nabi Muhammad SAW. Beliau bersabda sebagai berikut :
“Aku diutus (oleh Allah) untuk menyempurnakan akhlak  manusia” HR. Ahmad
Ucapan-ucapan nabi yang berkenaan dengan pembinaan akhlak yang mulia itu diikuti pula oleh perbuatannya dan kepribadiannya. Adanya akhlak Rasulullah yang demikian itu dinyatakan dalam ayat berikut :
“Pada diri Rasulullah itu terdapat suri tauladan yang baik untuk kamu sekalian” (QS. Al-Ahzab : 21)
Dengan demikian akhlak dalam Islam memiliki dua corak.
a.    Akhlak yang bercorak normatif yang bersumber pada Qur’an dan as-Sunnah.
b.    Akhlak yang bercorak rasional dan kultural yang didasarkan pada hasil pemikiran yang sehat serta adat istiadat pada kebudayaan yang berkembang.
5.    Akhlak Pada Zaman Baru
Pada akhir abad ke-15 M, Eropa mulai mengalami kebangkitan dalam bidang filsafat, pengetahuan dan teknologi. Segala sesuatu yang selama ini dianggap mapan mulai dikritik dan diperbaharui, hingga akhirnya mereka menerapkan pola bertindak dan berfikir secara liberal. Diantaranya perbaharuan masalah akhlak.
Akhlak yang mereka bangun didasarkan pada penyelidikan menurut kenyataan empiris dan tidan mengikuti gambaran khayal atau keyakinan yang terdapat pada ajaran agama.
Banyak totoh pemikir akhlak (etika, moral) yang lahir pada abad baru ini. Mereka itu diantaranya adalah Descartes, Shafesburry, Hatshon, Bentham, John Stuart Mill Kant, Dan Bertrand Russel.



BAB III
PENUTUP

 Kesimpulan
Etika
ᐅ    Etika    : Pengetahuan tentang asas-asas akhlak.
ᐅ    Etika dari segi objek    : Membahas perbuatan
ᐅ    Etika dari segi sifat    : Berubah sesuai tuntutan zaman
ᐅ    Etika dari segi fungsi    : Penilai, penentu, dan penetap
ᐅ    Etika dari segi sumber    : Bersumber pada akal fikiran atau filsafat
ᐅ    Etika bersifat humanistis dan antroposentris

Moral
o    Moral    : Tolak ukur yang digunakan untuk memberikan batasan dengan nilai ketentuan baik dan buruk.
Perbedaan Etika dan Moral
o    Etika menggunakan rasio, sedangkan moral tumbuh berkembang dan berlangsung di masyarakat.
Kesadaran moral mencakup 3 hal :
a.    Perasaan wajib untuk tindakan yang bermoral
b.    Terwujud rasional dan obyektif, diberlakukan secara universal
c.    Dalam bentuk kebebasan dengan terpampang nilai kemanusiaan itu sendiri
Hubungan etika, moral, susila dengan akhlak sama yaitu satu tujuan agar terciptanya masyarakat yang baik, teratur, aman dan sejahtera batiniyah dan lahiriyah. Etika berdasarkan pendapat akal pikiran, moral dan susila berdasar kebiasaan. Sedangkan akhlak tolak ukurnya adalah al-Qur’an dan Hadits.







Daftar Pustaka

Nata, Abudin. 2012. Akhlak Tasawuf. Rajawali Pres. Jakarta

                                                                  -Nurul Fikri-


No comments:

Post a Comment